ABDULLAH
Salah satu siswa yang sampai sekarang masih sering menjalin komunikasi dengan saya adalah Abdullah. Mungkin karena Abdul termasuk orang yang senang dengan cerpen dan novel-novel berhaluan satire, makanya dalam setiap diskusi dengan saya amat teramat nyambung (bukan si amatnya yang bersambung).
Abdul adalah orang yang mempunyai semangat melebihi batas sehingga apapun akan ia hadapi dan dalam kondisi seperti apapun ia sanggup bertahan, jangankan manusia bahkan para jinpun takjub dengan semangat hidupnya. Abdul berasal dari keluarga yang rusak rumahnya (broken home), ia termasuk anak yatim yang tidak pernah melihat wajah bapaknya secara langsung. Abdul kemudian menjalani hari-harinya dibawah kasih sayang sang ibu, seorang ibu yang senantiasa tegar dan tabah dengan semua tantangan kehidupan. Sebenarnya Abdul bisa saja menyelesaikan studinya lebih cepat tetapi karena kondisi georafis tempat tinggalnya dengan sekolah pada waktu itu tidak mendukung maka iapun terpaksa berhenti dalam jangka 2 tahun. Ketika kesempatan untuk sekolah itu hadir dengan secepat kilat Abdul menyambarnya bagai ayam yang ketemu makanan setelah sekian lama mengais-ngais tempat sampah. Abdul tergolong orang dengan tingkat kecerdasan intelektual lebih dari cukup. Abdul sudah menjadi anak didik saya sejak ia berada di kelas 7, waktu itu saya mengajar bidang studi matematika. Jika kebanyakan siswa yang lain berkeringat dingin ketika pelajaran matematika Abdul malah kepanasan saking besarnya semangat dalam dirinya untuk segera menyambar setiap soal yang akan saya berikan. Selain tahan terhadap setiap cobaan, Abdul juga termasuk orang yang sangat tahan terhadap hinaan, hinaan-hinaan dari teman-temannya diterimanya dengan lapang perut, ia hanya tersenyum dan jarang untuk melakukan serangan balasan. Sejak kelas 8 ia tinggal bersama seorang Guru Penjas di perumahan guru, ya Pak Eko Sarnoto..guru penjas berkebangsaan Jawa Timur yang logatnya tidak pernah ia tinggal dan selalu dibawa kemana-mana. Abdul dan Pak Eko bagai pinang ngga dibelah-belah, mereka sering bersama-sama, saling berbagi dalam kesunyian. Abdul sangat setia menjadi tukang masaknya pak eko, tukang angkat air, tukang bersih-bersih dan tukang-tukang lainnya. Sebelum lulus Pak eko memberikan kenang-kenangan terindah kepada Abdul dan Abdul senantiasa membawa pemberian pak eko itu kemanapun ia melangkahkan kakinya. ya..pak eko telah mewariskan optimisme dan sifat percaya diri (PD) yang tiada tanding. Dua sifat inilah yang telah membawa Abdul dalam mengarungi kehidupannya kota kecamatan (SMA), menabrak semua tantangan kehidupan glamornya kota Samarinda saat ia menimba ilmu di kursi perkuliahan. Saya hanya membantunya membangun terus menerus semangat menggapai kesuksesan dalam dirinya dengan mengajaknya membaca Novel-novel satire karya Andrea Hirata yang menceritakan kesuksesan seorang Andrea berkeliling Eropa hanya dengan modal optimisme menggapai mimpi.
Hari itu setelah Abdul dinyatakan lulus dari SMA, ia datang menemui saya, menginap dirumah reot saya yang penuh keindahan. Dalam obrolan kami saya kemudian bertanya kepadanya "Dul..gimana kamu lanjut sekolah ngga??"
Abdul "Insya Allah pak, itu sesuatu yang wajib"
Saya "trus..kamu mau lanjut kuliah dimana"
Abdul "saya akan coba ikut tes spmb di unmul pak, kalau tidak lulus baru daftar di kampus-kampus swasta, yang penting bisa kuliah dulu"
Saya "kamu ada dana ngga untuk kesamarinda?"
Abdul "klo ke samarindanya sih pak..ada..sudah saya kumpulkan dari hasil kerja apa saja waktu SMA"
Saya "bagus..trus kamu mau tinggal dimana?"
Abdul "untuk sementara pak..dimana saja yang penting bisa tidur sambil cari kerja dulu..kan banyak majid pak di samarinda?"
Saya hanya bisa tersenyum mendengar kata-katanya yang penuh dengan kekuatan optimisme, saya seperti biasanya memberikan beberapa nasehat agar sabar dan tidak malu menjalani kehidupan di kota selama itu bukan sebuah kejahatan.
Saya "dul..di samarinda banyak sekali kerjaan yang bisa kamu dapatkan asal kamu tidak malu untuk mencari dan menjalaninya. Jika dikemudian hari kamu bekerja sama seseorang satu hal yang harus kamu jaga baik-baik yaitu amanah sang bos, sekali kamu menghianat maka orang tidak akan memberikan kepercayaan lagi untuk kedua kalinya"
Abdul kemudian berangkat ke samarinda bersama dengan seorang sahabatnya yang juga siap menerjang derasnya kehidupan kota. tekad membara untuk menimba ilmu dibangku perkuliahan tidak pernah surut dalam dirinya hingga suatu hari Abdul menelpon saya;
Abdul "ass pak..sekarang saya sudah mendapatkan kerjaan baru pak setelah kemarin setelah keluar dari toko dan sempat jadi buruh di pelabuhan"
Saya "trus..kuliahmu gimana?"
Abdul "yaitu pak..saya tinggal menyelesaikan tugas akhir, tetapi tidak bisa fokus pak,kayaknya untuk sementara saya mau fokus ke kerjaan dulu, mungkin baiknya saya cuti kuliah dulu pak"
Saya "dul..ingat ya??niat awal kamu ke kota adalah untuk kuliah, kalau kuliahmu terbengkalai hanya gara-gara kerjaan sebaiknya kamu balik aja ke tanah hulu, disini juga banyak kerjaan..menurut saya sih kuliah harus kamu nomor satukan bukan kerjaan"
Abdul "iya pak, tetapi ini sudah terlanjur, insya Allah pak saya janji tahun depan saya akan fokus ke kuliah"
Saya "ya udah, karena itu sudah terlanjur kamu harus gunakan waktumu itu sebaik-baiknya, sering-sering menabung"
Abdul "iya pak"
Dalam hati saya hanya bisa berdoa semoga Tuhan senantiasa melindungi Abdul dan memberikan kesabaran dan ketabahan dalam menggapai apa yang dicita-citakan. Saya yakin disuatu saat nanti Abdul akan datang kepada saya dan berkata "you all right mr?"
Kamis, 04 Agustus 2016
SIKEMBAR ORIGINAL
SIKEMBAR ORIGINAL
Deva Sarawita..sebenarnya sih Saraswita, itu katanya siempunya nama sesuai dengan hasil tasmiayahan ketika dia baru beberapa hari menengok dunia yang penuh fitnah ini, namun orang yang menulis namanya di ijazah SDnya lagi flu sehingga pas menulis kata saras diiringi dengan hentakan bersin dadakan maka huru H jadi terlewatkan. Terlepas dari hilangnya huruf H dari namanya tidak mengurangi pesona wanita anggun seorang dewi jaman bahula yaitu SARASWATI dalam diri Deva.
Devi Saraswati..kembaran si Deva yang lahir lebih dahulu beberapa menit dari Deva. Penampakan keduanya tampak sangat mirip, namanya juga kembar kecuali setelah diperhatikan secara mendalam, bukan dalamnya yang diperhatikan, tapi wajah dan karakter sikapnya maka kita akan dapat dengan mudah membedakan keduanya.
Dihari pertama MOS tahun 2012 saya sempat tertegun menyaksikan 2 siswi lugu yang sangat mirip dalam barisan peserta MOS. Devi dengan sorot matanya yang tajam, tanpa senyum sedikitpun terlihat jelas diwajahnya bahwa anak itu seorang berkarakter tegas dan garang. Dia banyak tertunduk mungkin karena takut atau gugup sebagai siswa baru. Dari atas teras kantor saya dapat merasakan irama jantungnya yang teratur..dag..dug..dag..dug seperti kucing yang bersembunyi dibawah kolong meja karena habis nyuri ikan. Sedangkan Deva dengan wajah polos, mata sendu terlihat jelas dimatanya bahwa ia adalah seorang yang berjiwa lembut tapi penuh dengan kelicikan sehingga siapapun akan mudah terbawa resonansi kemanjaannya. Sama seperti Devi saat itu saya dapat merasakan betapa derasnya sirkulasi darah Deva yang mengalir bagaikan cacing-cacing kepanasan diatas aspal jalan raya.
Satu hal yang menarik bagi saya, 2 tahun kemudian setelah sikembar ori ini baru sempat saya didik dibangku kelas 9 ternyata mereka berdua memiliki tingkat kecerdasan yang sama dan diatas rata-rata orang yang tidak cerdas. Sebelumnya saya tidak tahu apa dan bagaimana mereka, yang saya ingat bahwa Deva pernah menangis meraung-meraung ketika saya sidang isbat akibat perkelahian dengan seorang siswi pindahan. Kabarnya menurut kabar kabari siswi pindahan tersebut terlalu sok sok'an dengan kecantikannya padahal tdk juga cantik, terlalu pembualan padahal tidak ada apa-apanya, teman-temannya sebagian besar tidak ada yang suka sehingga terkadang terjadi keributan diantara mereka termasuk didalamnya si Deva.
Kalau si Devi sebelumnya sering dikerjai sama guru-guru karena tanpa mengenal takut ia menjalin hubungan asmara dengan anaknya ibu Tohang yang terkenal dengan auman harimaunya itu. Setiap devi ke kantor saya selalu menggodanya apalagi kalau ada bu Tohang, dengan malu-malu singa Devi kemudian cepat-cepat keluar dari kantor secepat larinya kura-kura yang tidak bisa lepas dari cangkangnya.
Kedekatan saya sama sikembar ori ini khususnya si Deva ketika mereka telah memasuki masa-masa akhir di sekolah (kelas 9), bagi saya mereka adalah dua insan yang bisa dibanggakan itupun kalau mereka mau. Deva yang sering saya panggil situkang nangis karena memang kalau deva nangis tuning offnya langsung tidak berfungsi, ia mampu menangis selama orang yang shalat tarwih 20 rakaat dengan bacaan pelan. mungkin itulah sebabnya wajahnya senantiasa segar karena menurut penelitian orang yang banyak nangis tidak akan mudah dimakan tua (siapa juga yang mau makan). Sikap kritisnya dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam menjadi poin tersendiri bagi saya yang menyebabkan saya senantiasa memanggil deva ke kantor walau hanya sekedar memberinya tugas tambahan (disuruh-suruh). Gaya komunikasi deva yang lembut dipenuhi intrik-intrik politik diam-diam ketika dia menginginkan sesuatu terhadap lawan bicaranya menjadikan saya senang mengajak dia berdiskusi dalam banyak hal. Saya memang suka menyelami karakter siswa dalam setiap obrolan, dari tutur katanya, cara menyampaikan permasalahannya, gerak geriknya ketika berbicara sampai model dia ketawa saya perhatikan dengan seksama untuk mendapatkan kesimpulan tentangnya sehingga saya bisa memberikan dorongan semangat, nasehat yang tepat. Tetapi pada akhirnya nasibnya juga yang berbicara akan masa depannya. Keinginanan saya bahwa si kembar ori ini bisa melanjutkan pendidikan dengan bidang keilmuan sains tidak terpenuhi. Setelah mereka lulus dari SMP ini mereka melanjutkan ke sekolah tingkat atas spesifikasi kejuruan. Tetapi bagi saya untuk semua siswa-siswa saya yang penting mereka tetap mau melanjutkan sekolah, terus semangat menggapai kesuksesan.
Deva Devi hanyalah 2 orang (yaiyalah..kalau 3 berarti ada juga Devo) dari sekian banyak insan-insan didik saya yang sekarang hanya tinggal kenangan. Banyak hal yang tersimpan di memori saya tentang mereka. Tentang Beringasnya si Devi (memang yang namya Devi itu beringas-beringas loh), tentang keceriaan deva dengan suara manjanya yang menggelegar (kalau disuruh pura-pura lemas) dan satu lagi saya senang ketika Deva tertawa-tawa berurai air mata ketika saya menyampaikan cerita-cerita ilmiah tapi ngeramput di dalam kelasnya.
Semoga Tuhan selalu melindungi si kembar original ini, dan saya yakin suatu saat mereka akan datang kepada saya dan berkata "pak pahrul ya??"
Deva Sarawita..sebenarnya sih Saraswita, itu katanya siempunya nama sesuai dengan hasil tasmiayahan ketika dia baru beberapa hari menengok dunia yang penuh fitnah ini, namun orang yang menulis namanya di ijazah SDnya lagi flu sehingga pas menulis kata saras diiringi dengan hentakan bersin dadakan maka huru H jadi terlewatkan. Terlepas dari hilangnya huruf H dari namanya tidak mengurangi pesona wanita anggun seorang dewi jaman bahula yaitu SARASWATI dalam diri Deva.
Devi Saraswati..kembaran si Deva yang lahir lebih dahulu beberapa menit dari Deva. Penampakan keduanya tampak sangat mirip, namanya juga kembar kecuali setelah diperhatikan secara mendalam, bukan dalamnya yang diperhatikan, tapi wajah dan karakter sikapnya maka kita akan dapat dengan mudah membedakan keduanya.
Dihari pertama MOS tahun 2012 saya sempat tertegun menyaksikan 2 siswi lugu yang sangat mirip dalam barisan peserta MOS. Devi dengan sorot matanya yang tajam, tanpa senyum sedikitpun terlihat jelas diwajahnya bahwa anak itu seorang berkarakter tegas dan garang. Dia banyak tertunduk mungkin karena takut atau gugup sebagai siswa baru. Dari atas teras kantor saya dapat merasakan irama jantungnya yang teratur..dag..dug..dag..dug seperti kucing yang bersembunyi dibawah kolong meja karena habis nyuri ikan. Sedangkan Deva dengan wajah polos, mata sendu terlihat jelas dimatanya bahwa ia adalah seorang yang berjiwa lembut tapi penuh dengan kelicikan sehingga siapapun akan mudah terbawa resonansi kemanjaannya. Sama seperti Devi saat itu saya dapat merasakan betapa derasnya sirkulasi darah Deva yang mengalir bagaikan cacing-cacing kepanasan diatas aspal jalan raya.
Satu hal yang menarik bagi saya, 2 tahun kemudian setelah sikembar ori ini baru sempat saya didik dibangku kelas 9 ternyata mereka berdua memiliki tingkat kecerdasan yang sama dan diatas rata-rata orang yang tidak cerdas. Sebelumnya saya tidak tahu apa dan bagaimana mereka, yang saya ingat bahwa Deva pernah menangis meraung-meraung ketika saya sidang isbat akibat perkelahian dengan seorang siswi pindahan. Kabarnya menurut kabar kabari siswi pindahan tersebut terlalu sok sok'an dengan kecantikannya padahal tdk juga cantik, terlalu pembualan padahal tidak ada apa-apanya, teman-temannya sebagian besar tidak ada yang suka sehingga terkadang terjadi keributan diantara mereka termasuk didalamnya si Deva.
Kalau si Devi sebelumnya sering dikerjai sama guru-guru karena tanpa mengenal takut ia menjalin hubungan asmara dengan anaknya ibu Tohang yang terkenal dengan auman harimaunya itu. Setiap devi ke kantor saya selalu menggodanya apalagi kalau ada bu Tohang, dengan malu-malu singa Devi kemudian cepat-cepat keluar dari kantor secepat larinya kura-kura yang tidak bisa lepas dari cangkangnya.
Kedekatan saya sama sikembar ori ini khususnya si Deva ketika mereka telah memasuki masa-masa akhir di sekolah (kelas 9), bagi saya mereka adalah dua insan yang bisa dibanggakan itupun kalau mereka mau. Deva yang sering saya panggil situkang nangis karena memang kalau deva nangis tuning offnya langsung tidak berfungsi, ia mampu menangis selama orang yang shalat tarwih 20 rakaat dengan bacaan pelan. mungkin itulah sebabnya wajahnya senantiasa segar karena menurut penelitian orang yang banyak nangis tidak akan mudah dimakan tua (siapa juga yang mau makan). Sikap kritisnya dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam menjadi poin tersendiri bagi saya yang menyebabkan saya senantiasa memanggil deva ke kantor walau hanya sekedar memberinya tugas tambahan (disuruh-suruh). Gaya komunikasi deva yang lembut dipenuhi intrik-intrik politik diam-diam ketika dia menginginkan sesuatu terhadap lawan bicaranya menjadikan saya senang mengajak dia berdiskusi dalam banyak hal. Saya memang suka menyelami karakter siswa dalam setiap obrolan, dari tutur katanya, cara menyampaikan permasalahannya, gerak geriknya ketika berbicara sampai model dia ketawa saya perhatikan dengan seksama untuk mendapatkan kesimpulan tentangnya sehingga saya bisa memberikan dorongan semangat, nasehat yang tepat. Tetapi pada akhirnya nasibnya juga yang berbicara akan masa depannya. Keinginanan saya bahwa si kembar ori ini bisa melanjutkan pendidikan dengan bidang keilmuan sains tidak terpenuhi. Setelah mereka lulus dari SMP ini mereka melanjutkan ke sekolah tingkat atas spesifikasi kejuruan. Tetapi bagi saya untuk semua siswa-siswa saya yang penting mereka tetap mau melanjutkan sekolah, terus semangat menggapai kesuksesan.
Deva Devi hanyalah 2 orang (yaiyalah..kalau 3 berarti ada juga Devo) dari sekian banyak insan-insan didik saya yang sekarang hanya tinggal kenangan. Banyak hal yang tersimpan di memori saya tentang mereka. Tentang Beringasnya si Devi (memang yang namya Devi itu beringas-beringas loh), tentang keceriaan deva dengan suara manjanya yang menggelegar (kalau disuruh pura-pura lemas) dan satu lagi saya senang ketika Deva tertawa-tawa berurai air mata ketika saya menyampaikan cerita-cerita ilmiah tapi ngeramput di dalam kelasnya.
Semoga Tuhan selalu melindungi si kembar original ini, dan saya yakin suatu saat mereka akan datang kepada saya dan berkata "pak pahrul ya??"
Rabu, 03 Agustus 2016
DESSY RAHMADANI
DESSY RAHMADANI
Hari itu ditahun 2011 seorang anak perempuan kecil baru lulus TK diantar bapaknya yang sudah terkenal seantero Long Beleh Haloq kerumah saya untuk difoto dimana hasil foto tersebut digunakan untuk mendaftar di SD Negeri. Sejak itu saya sudah merasakan aura kepimimpinan dalam dirinya. Sejak di SD anak tersebut sudah menunjukkan kemampuan intelektualnya diatas rata-rata. Dari kelas 1 s/d 6 Dessy selalu meraih peringkat. Ketika masuk ke jenjang SMP ia berada dalam naungan saya (wali kelas) dari kelas 7 s/d 9. Kecerdikannya dalam berkomunikasi ala pemain politik bertangan dingin yang mampu menarik simpati teman-temannya sehingga ia mampu menjadi pemimpin kelas selama 3 tahun berturut-turut. Gayanya yang kemanja-manjaan laksana pemain sulap yang senantiasa beratraksi karena dibalik kemanjaannya tersimpan sifat keras turunan dari bapaknya. Saya senantiasa memantau perkembangan intelektualnya dan sikap kepemimpinannya, sering saya ajak berkomunikasi dan memberikan kebebasan berfikir sebesar-besarnya kepadanya dalam menjawab setiap tugas yang dibebankan. Kemampuannya dalam menganalisa sedetail mungkin setiap soal menjadi kelebihan tersendiri. Terkadang ia menemukan kesalahan dalam soal yang saya berikan dan dengannya saya harus meralat kembali soal tersebut.
Dessy sebenarnya termasuk orang yang sangat realistis dan formalis. Dunia seni sepertinya kurang berpengaruh pada dirinya. Saya yang hobi membaca cerpen, novel dan cerita-cerita sastra lainnya sering menawarkan kepadanya novel-novel dengan maksud untuk memberikan motivasi dari buku-buku tersebut, tetapi dengan lembut ia menolaknya.
Sering saya memanggilnya ke kantor sekolah hanya untuk sekedar berkomunikasi sambil meminta bantuannya membantu saya untuk menulis apa saja yang mau saya tulis.
Perjalanan Dessy tidak semulus lintah yang berjalan diatas keramik basah. Ia pernah tertimpa masalah dengan dewan guru akibat kabar yang menurut saya hanyalah sebatas kesalah pahaman dalam memahami pemberitaan. Siang itu Dessy saya panggil ke kantor, belum sempat saya mengajukan pertanyaan kepadanya air matanya sudah mengalir bagai hujan yang sebelumnya tidak ada mendung. Sungguh sebuah tehnik berpolitik tangan dingin bergerak dengan kelembutan tetapi serangan yang ditimbulkan mematikan. Tetapi orang dihadapannya telah kenyang dengan pengalaman hidup diberbagai medan. Tipuan-tipuan maut seperti itu adalah makanan pokok saya sehari-hari. Saya kemudian memberikan sedikit nasehat kepadanya tanpa peduli dengan air mata kuda yang dikeluarkan. Dalam isakannya Dessy hanya menjawab iya dan iya pak.Cacing-cacing yang pakai pitapun belinjatan menahan tawa akibat drama yang kurang mempesona itu. Semakin saya melembutkan suara semakin keras isakannya..tapi saya tau bahwa didalam hatinya ia hanya berkata,,kena lu..pak kali ini.
Harapan besar saya letakkan dipundaknya meskipun ia tidak pernah merasa pudaknya dibebani, bahwa suatu saat Dessy akan kembali dengan segudang kesuksesan. Kecerdasannya telah teruji sampai ia menyelesaikan studi tingkat sekolah menengah atas di sebuah sekolah kejuruan kesehatan samarinda dengan terus meraih peringkat membanggakan. Saya sadar bahwa anak itu terlihat tangguh disegala medan tapi didalam tubuhnya tersimpan bibit-bibit penyakit yang suatu saat akan berontak. Sampai saat ia telah menjadi Alumni saya masih senang mengajaknya ngobrol jika batang hidungnya sempat terlihat disekolah ini, masih seperti dulu pembawaannya yang dingin tapi penuh semangat tetap menghiasi kepribadiannya. Ya... semoga Tuhan selalu melindungi aset bangsa yang satu ini dan semoga Dessy dapat menggapai apa yang dicita-citakan dan saya sangat yakin suatu saat ia akan datang kepada saya dan berkata "hai..mr????"
Hari itu ditahun 2011 seorang anak perempuan kecil baru lulus TK diantar bapaknya yang sudah terkenal seantero Long Beleh Haloq kerumah saya untuk difoto dimana hasil foto tersebut digunakan untuk mendaftar di SD Negeri. Sejak itu saya sudah merasakan aura kepimimpinan dalam dirinya. Sejak di SD anak tersebut sudah menunjukkan kemampuan intelektualnya diatas rata-rata. Dari kelas 1 s/d 6 Dessy selalu meraih peringkat. Ketika masuk ke jenjang SMP ia berada dalam naungan saya (wali kelas) dari kelas 7 s/d 9. Kecerdikannya dalam berkomunikasi ala pemain politik bertangan dingin yang mampu menarik simpati teman-temannya sehingga ia mampu menjadi pemimpin kelas selama 3 tahun berturut-turut. Gayanya yang kemanja-manjaan laksana pemain sulap yang senantiasa beratraksi karena dibalik kemanjaannya tersimpan sifat keras turunan dari bapaknya. Saya senantiasa memantau perkembangan intelektualnya dan sikap kepemimpinannya, sering saya ajak berkomunikasi dan memberikan kebebasan berfikir sebesar-besarnya kepadanya dalam menjawab setiap tugas yang dibebankan. Kemampuannya dalam menganalisa sedetail mungkin setiap soal menjadi kelebihan tersendiri. Terkadang ia menemukan kesalahan dalam soal yang saya berikan dan dengannya saya harus meralat kembali soal tersebut.
Dessy sebenarnya termasuk orang yang sangat realistis dan formalis. Dunia seni sepertinya kurang berpengaruh pada dirinya. Saya yang hobi membaca cerpen, novel dan cerita-cerita sastra lainnya sering menawarkan kepadanya novel-novel dengan maksud untuk memberikan motivasi dari buku-buku tersebut, tetapi dengan lembut ia menolaknya.
Sering saya memanggilnya ke kantor sekolah hanya untuk sekedar berkomunikasi sambil meminta bantuannya membantu saya untuk menulis apa saja yang mau saya tulis.
Perjalanan Dessy tidak semulus lintah yang berjalan diatas keramik basah. Ia pernah tertimpa masalah dengan dewan guru akibat kabar yang menurut saya hanyalah sebatas kesalah pahaman dalam memahami pemberitaan. Siang itu Dessy saya panggil ke kantor, belum sempat saya mengajukan pertanyaan kepadanya air matanya sudah mengalir bagai hujan yang sebelumnya tidak ada mendung. Sungguh sebuah tehnik berpolitik tangan dingin bergerak dengan kelembutan tetapi serangan yang ditimbulkan mematikan. Tetapi orang dihadapannya telah kenyang dengan pengalaman hidup diberbagai medan. Tipuan-tipuan maut seperti itu adalah makanan pokok saya sehari-hari. Saya kemudian memberikan sedikit nasehat kepadanya tanpa peduli dengan air mata kuda yang dikeluarkan. Dalam isakannya Dessy hanya menjawab iya dan iya pak.Cacing-cacing yang pakai pitapun belinjatan menahan tawa akibat drama yang kurang mempesona itu. Semakin saya melembutkan suara semakin keras isakannya..tapi saya tau bahwa didalam hatinya ia hanya berkata,,kena lu..pak kali ini.
Harapan besar saya letakkan dipundaknya meskipun ia tidak pernah merasa pudaknya dibebani, bahwa suatu saat Dessy akan kembali dengan segudang kesuksesan. Kecerdasannya telah teruji sampai ia menyelesaikan studi tingkat sekolah menengah atas di sebuah sekolah kejuruan kesehatan samarinda dengan terus meraih peringkat membanggakan. Saya sadar bahwa anak itu terlihat tangguh disegala medan tapi didalam tubuhnya tersimpan bibit-bibit penyakit yang suatu saat akan berontak. Sampai saat ia telah menjadi Alumni saya masih senang mengajaknya ngobrol jika batang hidungnya sempat terlihat disekolah ini, masih seperti dulu pembawaannya yang dingin tapi penuh semangat tetap menghiasi kepribadiannya. Ya... semoga Tuhan selalu melindungi aset bangsa yang satu ini dan semoga Dessy dapat menggapai apa yang dicita-citakan dan saya sangat yakin suatu saat ia akan datang kepada saya dan berkata "hai..mr????"
Senin, 01 Agustus 2016
DEVI AZALIA MUJIONO
DEVI AZALIA MUJIONO
Orangnya baik namun sedikit beringas, putri Bapak mujiono salah seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta milik orang asing. Satu yang saya kagumi dari dirinya adalah kecerdasan dan sifat optimismenya yang kelewat batas (batas yang digunakan disini adalah batas orang dibawah rata-rata). Dari sejak kelas 7 sampai dengan kelas 9 Dia sudah menjadi bagian dari kelas dimana saya menjadi walinya. Kesuksesannya menjadi pemenang dalam setiap pemilihan ketua kelas menjadi bukti bahwa dibalik keberingasannya terdapat sifat sosial yang mampu menjadi pesona orang-orang disekitarnya. Saya juga sedikit heran ketika setiap saya memberikan tugas dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dia selalu menjadi yang pertama selesai dan sanggup menyelesaikan tugas dengan baik.Tetapi saya tidak pernah memanjakannya dengan pujian-pujian karena saya tidak mau melihatnya puas dengan kemampuan yang dia miliki. Saya selalu mencari celah kesalahan-kesalahan yang biasanya terselip dalam setiap hasil pekerjaannya. Aset negara yang langka ini harus diberikan motivasi terus menerus agar dapat menggapai cita-cita, tentunya dengan semangat menjadi orang yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Dalam dirinya saya melihat titisan dari seseorang yang juga pernah menjadi bagian kelas yang pernah saya bina di tahun 2011-2013, (ya Desi Rahmadhani yang insya Allah akan saya buat cerita tentangnya pada kesempatan yang lain). Bagi saya kepergiannya dari SMP ini adalah kebahagiaan besar karena saya telah melepaskan Modal besar yang akan membawa kebanggaan bagi saya dan sekolah ini (itupun kalau tidak putus ditengah jalan, semoga..). Devi sangat senang dengan setiap pembelajaran yang saya berikan, dan menjadikan Ilmu Pengetahuan Alam sebagai bagian dari Hobinya. Saya dapat merasakan kesedihannya ketika pelajaran itu terlewatkan karena beberapa hal yang tidak bisa saya sebutkan. Sifat keras kepala (bukan kepalanya yang keras) yang melekat pada dirinya merupakan satu dari sekian sifat terpuji yang perlu dilestarikan. Dia tidak pernah peduli dengan tanggapan orang-orang disekitar dirinya, mau ditemani silahkan..ditegur silahkan..dicuekin silahkan..bahkan dihinapun juga silahkan..(asal siap-siap aja digaplok). Selain senang dengan hal-hal sains yang penuh dengan keilmiahan ternyata Devi juga sangat senang dengan hal-hal mistik yang jauh dari ilmiah. Bersama dengan seorang temannya yang psikopat Shelly novita sari (artikel tentangnya juga akan saya buat) tanpa patah semangat memohon kepada saya untuk mengajarkan mereka hal-hal mistik yang sayapun juga heran kenapa mereka tidak tau bahwa saya tidak tau. Dengan sedikit trik tipuan yang sebenarnya ngga' bohongan saya memotivasi mereka untuk melakukan laku spritual yang kontinyu agar mendapatkan waskita sehingga mampu merasakan kehadiran energi "ilahi" dalam dirinya. Ternyata tipuan saya mendapatkan tempat dihati mereka. Sehingga konon Shelly mampu menembus dimensi alam yang tidak ilmiah itu dan membuatnya semakin phobia dengan alam sekitarnya dan Devi yang tadinya beringas dengan sendirinya sedikit demi sedikit mengerucut menjadi manusia super tidak hanya beringas kepada manusia tetapi juga kepada mahluk-mahluk astral. Pada sisi ini kebanggaan saya semakin menjadi-jadi karena saya telah menjadi salah satu bagian dari perubahan sisi emosional dan keoptimismenya yang suatu saat insya Allah akan menjadikan Devi sebagai sosok yang dihormati di alam manusia karena kesuksesannya dan ditakuti di alam bayangan karena kapasitas kesupranaturalannya. Amiin ya Rabbal Alamin. Saat ini saya hanya bisa berdoa semoga Devi tetap semangat menjalani tantangan kehidupan dimasa-masa yang akan datang dan berharap Dia akan datang di hadapan saya dan berkata " how are you mr ??"
Orangnya baik namun sedikit beringas, putri Bapak mujiono salah seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta milik orang asing. Satu yang saya kagumi dari dirinya adalah kecerdasan dan sifat optimismenya yang kelewat batas (batas yang digunakan disini adalah batas orang dibawah rata-rata). Dari sejak kelas 7 sampai dengan kelas 9 Dia sudah menjadi bagian dari kelas dimana saya menjadi walinya. Kesuksesannya menjadi pemenang dalam setiap pemilihan ketua kelas menjadi bukti bahwa dibalik keberingasannya terdapat sifat sosial yang mampu menjadi pesona orang-orang disekitarnya. Saya juga sedikit heran ketika setiap saya memberikan tugas dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dia selalu menjadi yang pertama selesai dan sanggup menyelesaikan tugas dengan baik.Tetapi saya tidak pernah memanjakannya dengan pujian-pujian karena saya tidak mau melihatnya puas dengan kemampuan yang dia miliki. Saya selalu mencari celah kesalahan-kesalahan yang biasanya terselip dalam setiap hasil pekerjaannya. Aset negara yang langka ini harus diberikan motivasi terus menerus agar dapat menggapai cita-cita, tentunya dengan semangat menjadi orang yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Dalam dirinya saya melihat titisan dari seseorang yang juga pernah menjadi bagian kelas yang pernah saya bina di tahun 2011-2013, (ya Desi Rahmadhani yang insya Allah akan saya buat cerita tentangnya pada kesempatan yang lain). Bagi saya kepergiannya dari SMP ini adalah kebahagiaan besar karena saya telah melepaskan Modal besar yang akan membawa kebanggaan bagi saya dan sekolah ini (itupun kalau tidak putus ditengah jalan, semoga..). Devi sangat senang dengan setiap pembelajaran yang saya berikan, dan menjadikan Ilmu Pengetahuan Alam sebagai bagian dari Hobinya. Saya dapat merasakan kesedihannya ketika pelajaran itu terlewatkan karena beberapa hal yang tidak bisa saya sebutkan. Sifat keras kepala (bukan kepalanya yang keras) yang melekat pada dirinya merupakan satu dari sekian sifat terpuji yang perlu dilestarikan. Dia tidak pernah peduli dengan tanggapan orang-orang disekitar dirinya, mau ditemani silahkan..ditegur silahkan..dicuekin silahkan..bahkan dihinapun juga silahkan..(asal siap-siap aja digaplok). Selain senang dengan hal-hal sains yang penuh dengan keilmiahan ternyata Devi juga sangat senang dengan hal-hal mistik yang jauh dari ilmiah. Bersama dengan seorang temannya yang psikopat Shelly novita sari (artikel tentangnya juga akan saya buat) tanpa patah semangat memohon kepada saya untuk mengajarkan mereka hal-hal mistik yang sayapun juga heran kenapa mereka tidak tau bahwa saya tidak tau. Dengan sedikit trik tipuan yang sebenarnya ngga' bohongan saya memotivasi mereka untuk melakukan laku spritual yang kontinyu agar mendapatkan waskita sehingga mampu merasakan kehadiran energi "ilahi" dalam dirinya. Ternyata tipuan saya mendapatkan tempat dihati mereka. Sehingga konon Shelly mampu menembus dimensi alam yang tidak ilmiah itu dan membuatnya semakin phobia dengan alam sekitarnya dan Devi yang tadinya beringas dengan sendirinya sedikit demi sedikit mengerucut menjadi manusia super tidak hanya beringas kepada manusia tetapi juga kepada mahluk-mahluk astral. Pada sisi ini kebanggaan saya semakin menjadi-jadi karena saya telah menjadi salah satu bagian dari perubahan sisi emosional dan keoptimismenya yang suatu saat insya Allah akan menjadikan Devi sebagai sosok yang dihormati di alam manusia karena kesuksesannya dan ditakuti di alam bayangan karena kapasitas kesupranaturalannya. Amiin ya Rabbal Alamin. Saat ini saya hanya bisa berdoa semoga Devi tetap semangat menjalani tantangan kehidupan dimasa-masa yang akan datang dan berharap Dia akan datang di hadapan saya dan berkata " how are you mr ??"
Langganan:
Postingan (Atom)