Kamis, 04 Agustus 2016

ABDULLAH

ABDULLAH

Salah satu siswa yang sampai sekarang masih sering menjalin komunikasi dengan saya adalah Abdullah. Mungkin karena Abdul termasuk orang yang senang dengan cerpen dan novel-novel berhaluan satire, makanya dalam setiap diskusi dengan saya amat teramat nyambung (bukan si amatnya yang bersambung).
Abdul adalah orang yang mempunyai semangat melebihi batas sehingga apapun akan ia hadapi dan dalam kondisi seperti apapun ia sanggup bertahan, jangankan manusia bahkan para jinpun takjub dengan semangat hidupnya. Abdul berasal dari keluarga yang rusak rumahnya (broken home), ia termasuk anak yatim yang tidak pernah melihat wajah bapaknya secara langsung. Abdul kemudian menjalani hari-harinya dibawah kasih sayang sang ibu, seorang ibu yang senantiasa tegar dan tabah dengan semua tantangan kehidupan. Sebenarnya Abdul bisa saja menyelesaikan studinya lebih cepat tetapi karena kondisi georafis tempat tinggalnya dengan sekolah pada waktu itu tidak mendukung maka iapun terpaksa berhenti dalam jangka 2 tahun. Ketika kesempatan untuk sekolah itu hadir dengan secepat kilat Abdul menyambarnya bagai ayam yang ketemu makanan setelah sekian lama mengais-ngais tempat sampah. Abdul tergolong orang dengan tingkat kecerdasan intelektual lebih dari cukup. Abdul sudah menjadi anak didik saya sejak ia berada di kelas 7, waktu itu saya mengajar bidang studi matematika. Jika kebanyakan siswa yang lain berkeringat dingin ketika pelajaran matematika Abdul malah kepanasan saking besarnya semangat dalam dirinya untuk segera menyambar setiap soal yang akan saya berikan. Selain tahan terhadap setiap cobaan, Abdul juga termasuk orang yang sangat tahan terhadap hinaan, hinaan-hinaan dari teman-temannya diterimanya dengan lapang perut, ia hanya tersenyum dan jarang untuk melakukan serangan balasan. Sejak kelas 8 ia tinggal bersama seorang Guru Penjas di perumahan guru, ya Pak Eko Sarnoto..guru penjas berkebangsaan Jawa Timur yang logatnya tidak pernah ia tinggal dan selalu dibawa kemana-mana. Abdul dan Pak Eko bagai pinang ngga dibelah-belah, mereka sering bersama-sama, saling berbagi dalam kesunyian. Abdul sangat setia menjadi tukang masaknya pak eko, tukang angkat air, tukang bersih-bersih dan tukang-tukang lainnya. Sebelum lulus Pak eko memberikan kenang-kenangan terindah kepada Abdul dan Abdul senantiasa membawa pemberian pak eko itu kemanapun ia melangkahkan kakinya. ya..pak eko telah mewariskan optimisme dan sifat percaya diri (PD) yang tiada tanding. Dua sifat inilah yang telah membawa Abdul dalam mengarungi kehidupannya kota kecamatan (SMA), menabrak semua tantangan kehidupan glamornya kota Samarinda saat ia menimba ilmu di kursi perkuliahan. Saya hanya membantunya membangun terus menerus semangat menggapai kesuksesan dalam dirinya dengan mengajaknya membaca Novel-novel satire karya Andrea Hirata yang menceritakan kesuksesan seorang Andrea berkeliling Eropa hanya dengan modal optimisme menggapai mimpi.
Hari itu setelah Abdul dinyatakan lulus dari SMA, ia datang menemui saya, menginap dirumah reot saya yang penuh keindahan. Dalam obrolan kami saya kemudian bertanya kepadanya "Dul..gimana kamu lanjut sekolah ngga??"
Abdul "Insya Allah pak, itu sesuatu yang wajib"
Saya "trus..kamu mau lanjut kuliah dimana"
Abdul "saya akan coba ikut tes spmb di unmul pak, kalau tidak lulus baru daftar di kampus-kampus swasta, yang penting bisa kuliah dulu"
Saya "kamu ada dana ngga untuk kesamarinda?"
Abdul "klo ke samarindanya sih pak..ada..sudah saya kumpulkan dari hasil kerja apa saja waktu SMA"
Saya "bagus..trus kamu mau tinggal dimana?"
Abdul "untuk sementara pak..dimana saja yang penting bisa tidur sambil cari kerja dulu..kan banyak majid pak di samarinda?"
Saya hanya bisa tersenyum mendengar kata-katanya yang penuh dengan kekuatan optimisme, saya seperti biasanya memberikan beberapa nasehat agar sabar dan tidak malu menjalani kehidupan di kota selama itu bukan sebuah kejahatan.
Saya "dul..di samarinda banyak sekali kerjaan yang bisa kamu dapatkan asal kamu tidak malu untuk mencari dan menjalaninya. Jika dikemudian hari kamu bekerja sama seseorang satu hal yang harus kamu jaga baik-baik yaitu amanah sang bos, sekali kamu menghianat maka orang tidak akan memberikan kepercayaan lagi untuk kedua kalinya"
Abdul kemudian berangkat ke samarinda bersama dengan seorang sahabatnya yang juga siap menerjang derasnya kehidupan kota. tekad membara untuk menimba ilmu dibangku perkuliahan tidak pernah surut dalam dirinya hingga suatu hari Abdul menelpon saya;
Abdul "ass pak..sekarang saya sudah mendapatkan kerjaan baru pak setelah kemarin setelah keluar dari toko dan sempat jadi buruh di pelabuhan"
Saya "trus..kuliahmu gimana?"
Abdul "yaitu pak..saya tinggal menyelesaikan tugas akhir, tetapi tidak bisa fokus pak,kayaknya untuk sementara saya mau fokus ke kerjaan dulu, mungkin baiknya saya cuti kuliah dulu pak"
Saya "dul..ingat ya??niat awal kamu ke kota adalah untuk kuliah, kalau kuliahmu terbengkalai hanya gara-gara kerjaan sebaiknya kamu balik aja ke tanah hulu, disini juga banyak kerjaan..menurut saya sih kuliah harus kamu nomor satukan bukan kerjaan"
Abdul "iya pak, tetapi ini sudah terlanjur, insya Allah pak saya janji tahun depan saya akan fokus ke kuliah"
Saya "ya udah, karena itu sudah terlanjur kamu harus gunakan waktumu itu sebaik-baiknya, sering-sering menabung"
Abdul "iya pak"
Dalam hati saya hanya bisa berdoa semoga Tuhan senantiasa melindungi Abdul dan memberikan kesabaran dan ketabahan dalam menggapai apa yang dicita-citakan. Saya yakin disuatu saat nanti Abdul akan datang kepada saya dan berkata "you all right mr?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar