Rabu, 03 Agustus 2016

DESSY RAHMADANI

DESSY RAHMADANI

Hari itu ditahun 2011 seorang anak perempuan kecil baru lulus TK diantar bapaknya yang sudah terkenal seantero Long Beleh Haloq kerumah saya untuk difoto dimana hasil foto tersebut digunakan untuk mendaftar di SD Negeri. Sejak itu saya sudah merasakan aura kepimimpinan dalam dirinya. Sejak di SD anak tersebut sudah menunjukkan kemampuan intelektualnya diatas rata-rata. Dari kelas 1 s/d 6 Dessy selalu meraih peringkat. Ketika masuk ke jenjang SMP ia berada dalam naungan saya (wali kelas) dari kelas 7 s/d 9. Kecerdikannya dalam berkomunikasi ala pemain politik bertangan dingin yang mampu menarik simpati teman-temannya sehingga ia mampu menjadi pemimpin kelas selama 3 tahun berturut-turut. Gayanya yang kemanja-manjaan laksana pemain sulap yang senantiasa beratraksi karena dibalik kemanjaannya tersimpan sifat keras turunan dari bapaknya. Saya senantiasa memantau perkembangan intelektualnya dan sikap kepemimpinannya, sering saya ajak berkomunikasi dan memberikan kebebasan berfikir sebesar-besarnya kepadanya dalam menjawab setiap tugas yang dibebankan. Kemampuannya dalam menganalisa sedetail mungkin setiap soal menjadi kelebihan tersendiri. Terkadang ia menemukan kesalahan dalam soal yang saya berikan dan dengannya saya harus meralat kembali soal tersebut.
Dessy sebenarnya termasuk orang yang sangat realistis dan formalis. Dunia seni sepertinya kurang berpengaruh pada dirinya. Saya yang hobi membaca cerpen, novel dan cerita-cerita sastra lainnya sering menawarkan kepadanya novel-novel dengan maksud untuk memberikan motivasi dari buku-buku tersebut, tetapi dengan lembut ia menolaknya.
Sering saya memanggilnya ke kantor sekolah hanya untuk sekedar berkomunikasi sambil meminta bantuannya membantu saya untuk menulis apa saja yang mau saya tulis.
Perjalanan Dessy tidak semulus lintah yang berjalan diatas keramik basah. Ia pernah tertimpa masalah dengan dewan guru akibat kabar yang menurut saya hanyalah sebatas kesalah pahaman dalam memahami pemberitaan. Siang itu Dessy saya panggil ke kantor, belum sempat saya mengajukan pertanyaan kepadanya air matanya sudah mengalir bagai hujan yang sebelumnya tidak ada mendung. Sungguh sebuah tehnik berpolitik tangan dingin bergerak dengan kelembutan tetapi serangan yang ditimbulkan mematikan. Tetapi orang dihadapannya telah kenyang dengan pengalaman hidup diberbagai medan. Tipuan-tipuan maut seperti itu adalah makanan pokok saya sehari-hari. Saya kemudian memberikan sedikit nasehat kepadanya tanpa peduli dengan air mata kuda yang dikeluarkan. Dalam isakannya Dessy hanya menjawab iya dan iya pak.Cacing-cacing yang pakai pitapun belinjatan menahan tawa akibat drama yang kurang mempesona itu. Semakin saya melembutkan suara semakin keras isakannya..tapi saya tau bahwa didalam hatinya ia hanya berkata,,kena lu..pak kali ini.
Harapan besar saya letakkan dipundaknya meskipun ia tidak pernah merasa pudaknya dibebani, bahwa suatu saat Dessy akan kembali dengan segudang kesuksesan. Kecerdasannya telah teruji sampai ia menyelesaikan studi tingkat sekolah menengah atas di sebuah sekolah kejuruan kesehatan samarinda dengan terus meraih peringkat membanggakan. Saya sadar bahwa anak itu terlihat tangguh disegala medan tapi didalam tubuhnya tersimpan bibit-bibit penyakit yang suatu saat akan berontak. Sampai saat ia telah menjadi Alumni saya masih senang mengajaknya ngobrol jika batang hidungnya sempat terlihat disekolah ini, masih seperti dulu pembawaannya yang dingin tapi penuh semangat tetap menghiasi kepribadiannya. Ya... semoga Tuhan selalu melindungi aset bangsa yang satu ini dan semoga Dessy dapat menggapai apa yang dicita-citakan dan saya sangat yakin suatu saat ia akan datang kepada saya dan berkata "hai..mr????"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar