SIKEMBAR ORIGINAL
Deva Sarawita..sebenarnya sih Saraswita, itu katanya siempunya nama sesuai dengan hasil tasmiayahan ketika dia baru beberapa hari menengok dunia yang penuh fitnah ini, namun orang yang menulis namanya di ijazah SDnya lagi flu sehingga pas menulis kata saras diiringi dengan hentakan bersin dadakan maka huru H jadi terlewatkan. Terlepas dari hilangnya huruf H dari namanya tidak mengurangi pesona wanita anggun seorang dewi jaman bahula yaitu SARASWATI dalam diri Deva.
Devi Saraswati..kembaran si Deva yang lahir lebih dahulu beberapa menit dari Deva. Penampakan keduanya tampak sangat mirip, namanya juga kembar kecuali setelah diperhatikan secara mendalam, bukan dalamnya yang diperhatikan, tapi wajah dan karakter sikapnya maka kita akan dapat dengan mudah membedakan keduanya.
Dihari pertama MOS tahun 2012 saya sempat tertegun menyaksikan 2 siswi lugu yang sangat mirip dalam barisan peserta MOS. Devi dengan sorot matanya yang tajam, tanpa senyum sedikitpun terlihat jelas diwajahnya bahwa anak itu seorang berkarakter tegas dan garang. Dia banyak tertunduk mungkin karena takut atau gugup sebagai siswa baru. Dari atas teras kantor saya dapat merasakan irama jantungnya yang teratur..dag..dug..dag..dug seperti kucing yang bersembunyi dibawah kolong meja karena habis nyuri ikan. Sedangkan Deva dengan wajah polos, mata sendu terlihat jelas dimatanya bahwa ia adalah seorang yang berjiwa lembut tapi penuh dengan kelicikan sehingga siapapun akan mudah terbawa resonansi kemanjaannya. Sama seperti Devi saat itu saya dapat merasakan betapa derasnya sirkulasi darah Deva yang mengalir bagaikan cacing-cacing kepanasan diatas aspal jalan raya.
Satu hal yang menarik bagi saya, 2 tahun kemudian setelah sikembar ori ini baru sempat saya didik dibangku kelas 9 ternyata mereka berdua memiliki tingkat kecerdasan yang sama dan diatas rata-rata orang yang tidak cerdas. Sebelumnya saya tidak tahu apa dan bagaimana mereka, yang saya ingat bahwa Deva pernah menangis meraung-meraung ketika saya sidang isbat akibat perkelahian dengan seorang siswi pindahan. Kabarnya menurut kabar kabari siswi pindahan tersebut terlalu sok sok'an dengan kecantikannya padahal tdk juga cantik, terlalu pembualan padahal tidak ada apa-apanya, teman-temannya sebagian besar tidak ada yang suka sehingga terkadang terjadi keributan diantara mereka termasuk didalamnya si Deva.
Kalau si Devi sebelumnya sering dikerjai sama guru-guru karena tanpa mengenal takut ia menjalin hubungan asmara dengan anaknya ibu Tohang yang terkenal dengan auman harimaunya itu. Setiap devi ke kantor saya selalu menggodanya apalagi kalau ada bu Tohang, dengan malu-malu singa Devi kemudian cepat-cepat keluar dari kantor secepat larinya kura-kura yang tidak bisa lepas dari cangkangnya.
Kedekatan saya sama sikembar ori ini khususnya si Deva ketika mereka telah memasuki masa-masa akhir di sekolah (kelas 9), bagi saya mereka adalah dua insan yang bisa dibanggakan itupun kalau mereka mau. Deva yang sering saya panggil situkang nangis karena memang kalau deva nangis tuning offnya langsung tidak berfungsi, ia mampu menangis selama orang yang shalat tarwih 20 rakaat dengan bacaan pelan. mungkin itulah sebabnya wajahnya senantiasa segar karena menurut penelitian orang yang banyak nangis tidak akan mudah dimakan tua (siapa juga yang mau makan). Sikap kritisnya dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam menjadi poin tersendiri bagi saya yang menyebabkan saya senantiasa memanggil deva ke kantor walau hanya sekedar memberinya tugas tambahan (disuruh-suruh). Gaya komunikasi deva yang lembut dipenuhi intrik-intrik politik diam-diam ketika dia menginginkan sesuatu terhadap lawan bicaranya menjadikan saya senang mengajak dia berdiskusi dalam banyak hal. Saya memang suka menyelami karakter siswa dalam setiap obrolan, dari tutur katanya, cara menyampaikan permasalahannya, gerak geriknya ketika berbicara sampai model dia ketawa saya perhatikan dengan seksama untuk mendapatkan kesimpulan tentangnya sehingga saya bisa memberikan dorongan semangat, nasehat yang tepat. Tetapi pada akhirnya nasibnya juga yang berbicara akan masa depannya. Keinginanan saya bahwa si kembar ori ini bisa melanjutkan pendidikan dengan bidang keilmuan sains tidak terpenuhi. Setelah mereka lulus dari SMP ini mereka melanjutkan ke sekolah tingkat atas spesifikasi kejuruan. Tetapi bagi saya untuk semua siswa-siswa saya yang penting mereka tetap mau melanjutkan sekolah, terus semangat menggapai kesuksesan.
Deva Devi hanyalah 2 orang (yaiyalah..kalau 3 berarti ada juga Devo) dari sekian banyak insan-insan didik saya yang sekarang hanya tinggal kenangan. Banyak hal yang tersimpan di memori saya tentang mereka. Tentang Beringasnya si Devi (memang yang namya Devi itu beringas-beringas loh), tentang keceriaan deva dengan suara manjanya yang menggelegar (kalau disuruh pura-pura lemas) dan satu lagi saya senang ketika Deva tertawa-tawa berurai air mata ketika saya menyampaikan cerita-cerita ilmiah tapi ngeramput di dalam kelasnya.
Semoga Tuhan selalu melindungi si kembar original ini, dan saya yakin suatu saat mereka akan datang kepada saya dan berkata "pak pahrul ya??"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar