Kamis, 17 Maret 2016

Saya Minta Maaf Pak.. 2008 Kali

Hari itu tepatnya disuatu hari dibulan agustus tahun 2008, pagi yang cerah, mentari dengan gagahnya tanpa rasa malu menampakkan dirinya memancarkan sinar ultraviolet yang menyakitkan tanpa ada awan yang berani menghalangi. Saya berdiri didepan kantor sekolah sambil memegang mic yang terhubung ke pengeras suara, didepan saya berbaris para siswa yang berharap barisan segera dibubarkan karena sengatan panas mentari yang tanpa ampun menyerang sel-sel kulit mereka. dengan sedikit santun saya mengucapkan beberapa kata pembuka maksud dan tujuan mereka dikumpulkan. Berdasarkan hasil rapat dewan guru bersama wakil kepala sekolah yang sudah bertahun-tahun tidak pernah diganti sampai dengan saat tulisan ini dibuat, diputuskan bahwa untuk menyambut dan memperingati hari kemerdekaan republik Indonesia sekolah akan mengadakan beberapa kegiatan seperti lomba-lomba antar kelas, pawai obor, dan tentunya Upacara 17 Agustus. Setelah pengumuman tentang rencana pelaksanaan acara dan teknis pelaksanaannya, yang ditunggu-tunggu oleh para siswapun tiba yaitu pembubaran barisan. Tidak berselang lama setelah barisan dibubarkan beberapa siswa datang menghadap kepada saya untuk meminta ijin dalam beberapa hari karena mereka diminta untuk mengikuti kegiatan pramuka di kota kecamatan oleh salah seorang pembina pramuka terkemuka di sebuah estate perusahaan sawit. Setelah berkonsultasi dengan dewan guru lainnya dan juga dengan bapak Wakil kepala sekolah kamipun memutuskan untuk tidak memberikan ijin karena sekolah punya acara sendiri sehingga kebersamaan antara sesama siswa harus tetap dijaga. Mariana,sikecil yang cerdik, pintar dan sangat aktif, pernah datang kesekolah dipagi hari sambil meraung-raung ketakutan karena melihat hantu kecil gundul bermuka sangat tidak menyenangkan untuk dilihat sedang merayap-rayap didinding wc sekolah.setelah diteliti lebih lanjut ternyata mariana hari itu habis bertengkar dengan orang tuanya, mungkin saking kesalnya sehingga sigundul memiliki kesempatan untuk melancarkan hobbinya memanas-manasi perasaan manu sia. Bersama dengan Jamaluddin siswa yang sangat jago dalam hitung menghitung, orangnya berperawakan cukup tinggi, muka pas-pasan, tetapi hebat dalam memikat hati lawan jenisnya yang belum sadar akan arti sebuah gombalan. Mariana dan Jamaluddin bersama beberapa temannya tetap ngotot untuk mengikuti kegiatan pramuka di kota kecamatan meskipun tanpa ijin dari dewan guru. Ketika acara pembukaan lomba antar kelas dimulai para siswa datang kepada saya untuk melakukan protesnya karena mereka mengira sekolah telah memberikan ijin kepada Jamaluddin dkk. Dengan penuh kesabaran menahan kekesalan karena Jamal dkk berani menabrak larangan dewan guru, saya mencoba menenangkan para siswa yang melakukan protes dan menjanjikan sanksi bagi Jamal dkk kepada mereka.
Pada hari terakhir perlombaan antar kelas Mariana, jamal dkk ditemani pelatih mereka datang ke sekolah sepulang dari kegiatan pramuka mereka di kota kecamatan dengan menumpang Mobil andalan perusahaan. Sambil cengar cengir nggak tahu malu mereka memasuki kawasan sekolah dan kemudian masuk ke dalam kantor sekolah sambil membawa sebuah piala, gaya memuakkan mereka yang penuh kebualan dengan pialanya, seakan-akan menunjukkan kepada teman-temannya yang sedang bertanding dalam perlombaan antar kelas bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kebanggaan yang tiada batas. Saya hanya bisa tersenyum kecut sambil berkata dalam hati "tunggu giliran kalian besok".
Keesokan harinya sebelum kegiatan dimulai lonceng berbunyi sebanyak lima kali dengan lantang sebagai tanda para siswa harus segera berkumpul di lapangan serbaguna sekolah. seperti biasa mic kecil yang tidak pernah bosan menemani saya dalam menyampaikan pengumuman dan pemberitahuan yang nggak penting apalagi yang penting. Saya memulai dengan berkata "Alhamdulillah..hari ini teman-teman kalian yang kabur beberapa hari yang lalu sudah hadir kembali bersama kita disini dan saya minta kepada mereka untuk membuat barisan sendiri didepan". Mariana dkk kemudian maju kedepan dan berbaris dengan lurus meskipun tidak rapi. Saya melanjutkan "Gimana kabar kalian hari ini?". Mereka menjawab dengan suara pelan, serak karena terpaksa menjawab "baik pak. Saya berkata "masa anggota pramuka jawabnya seperti itu?yang semangat dong (dengan sedikit tekanan nada tinggi)". Dengan kompak dan lantang mereka menjawab "Baik Pak. Saya berkata "Jamal..tau kesalahan apa yang telah kalian lakukan??". Jamal menjawab "tau pak". saya berkata "jamal..ko pake sendal, katanya anak pramuka?ko kesekolah pake sendal, memang diajarkan seperti itu ya di pramuka?". Jamal dkk diam sejuta bahasa. Saya kemudian melanjutkan "karena kalian tidak mau mengikuti apa yang telah diputuskan oleh guru-guru kalian dan kalian juga telah menghianati teman-teman kalian maka dengan ini saya memberikan sanksi kepada kalian, apakah kalian masih mau menjadi anak-anak kami yang bisa kami banggakan atau tidak, semua itu terserah kepada diri kalian sendiri. Sanksi kali ini adalah kalian harus menulis kalimat SAYA MINTA MAAF PAK sebanyak 2008 kali karena tahun ini adalah tahun 2008, saya beri waktu 3 hari untuk menyelesaikan tugas kalian ini, dimengerti??". Mereka dengan kompak dan lantang menjawab "mengerti pak.."  Sejak saat itu Jamal, Mariana dkk disibukkan dengan tulisan Saya Minta Maaf Pak. Di dalam kelas, di warung, ditempat tidur, dan dimana saja ada tempat yang bagus untuk menulis mereka terus menulis untuk menyelesaikan tugas mereka. Terkadang teman-teman Jamal menawarkan diri untuk membantu dalam menulis tugasnya, tetapi dengan tegas Jamal menolaknya, bukan karena Jamal memiliki prinsip kesetiaan tetapi karena takut tugasnya menulis akan diulang dari awal kembali jika ketahuan ada orang yang membantunya menuliskan tugasnya. Gole salah seorang teman jamal yang setia menemani Jamal dalam kesedihannya menjalani sanksinya. 3 hari setelah sanksi tersebut dijatuhkan dari langit mulut saya telah berlalu dan para siswa dikumpulkan kembali di pagi itu selain untuk mengumumkan pemenang lomba antar kelas, rencana acara pawai obor, serta persiapan latihan upacara 17 agustus saya juga kembali memanggil Jamal dkk untuk membuat barisan paling depan. Saya kemudian berkata "karena hari ini adalah hari keempat setelah sanksi terhadap Jamal dkk, maka saya minta kepada kalian Jamal, Mariana dan yang lainnya untuk mengumpulkan tugasnya" Jamal dkk kemudian maju satu persatu membawa tugas yang telah ditulisnya sejak 3 hari yang lalu. saya mengecek satu persatu tugas mereka beberapa saat dan kemudian melanjutkan "setelah memeriksa tugas yang kalian tulis ini secara seksama maka saya sampaikan bahwa kalian adalah siswa-siswa kami yang bisa kami banggakan" tepuk tangan riuhpun tak terhindarkan lagi yang dilakukan oleh seluruh siswa tanpa peduli lagi dengan panasnya sengatan sinar matahari. Mereka tidak peduli lagi dengan mulesnya lutut mereka karena kelamaan berdiri, mereka gembira dengan suntikan kata-kata yang baru saya sampaikan. Sungguh kalimat SAYA MINTA MAAF PAK 2008 kali itu kekal dalam hati saya hingga saat ini dan saat nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar